Dalam perkuliahan mata kuliah ini mahasiswa akan diarahkan pada cara memahami Islam, baik Islam sebagai agama, budaya dan ilmu. Islam sebagai agama menjadi pandangan hidup, sedangkan sebagai budaya Islam jadi gejala sosial yang muncul sebagai jawaban kritis masyarakat. Selain itu, Islam sebagai ilmu sangat menarik untuk dikaji dengan berbagai pendekatan, metode dan kajian ilmiyah lainnya. Oleh karena itu, garis besar tujuan dari PSI adalah:
  1. Memberikan pemahaman holistik, universal dan inklusif terhadap Islam
  2. Memberikan kerangka metodologis dalam memahami Islam

Urgensi Studi Islam
Melalui pendekatan yang bersifat rasional-obyektif, studi Islam diharapkan: 1) Mampu memberikan alternatif pemecahan masalah atau jalan keluar dari kondisi yang problematis tersebut; 2) Dapat mengarah kepada dan bertujuan untuk mengadkan usaha-usaha pembaharuan dan pemikiran kembali ajaran agama Islam agar mampu beradaptasi dan menjawab tantangan zaman dan dunia modern denga tetap berpegang teguh pada sumber ajaran agama Islam yang asli, yaitu Al-Qur’an dan as-Sunnah; 3) Mampu memberikan pedoman dan pegangan hidup bagi umat Islam, agar tetap menjadi seorang muslim sejati, yang mampu menjawab tantangan pada era globalisasi ini.
studi Islam diharapkan mampu menggali kembali ajaran-ajaran Islam yang murni, dan yang bersifat menusiawi dan universal, yang mempunyai daya untuk mewujudkan dirinya sebagai rahmah lil ‘alamin.

Seputar Definisi Agama
Mukti Ali pernah mengatakan, barangkali tidak ada kata yang paling sulit diberi pengertian dan defenisi selain dari kata agama. Hal ini didasarkan pada alasan:
Pertama, bahwa pengalaman agama adalah soal batin, subyektif dan sangat individualis sifatnya.
Kedua barangkali tidak ada orang yang begitu bersemangat dan emosional daripada orang yang membicarakan agama. Karena itu, setiap pembahasan tentang arti agama selalu ada emosi yang melekat erat sehingga kata agama itu sulit didefinisikan.
Ketiga, kosepsi tentang agama dipengaruhi oleh tujuan dari orang yang memberikan definisi tersebut.

M. Sastrapratedja mengatakan bahwa salah satu kesulitan untuk berbicara mengenai agama secara umum adalah adanya perbedaan-perbedaan dalam memahami arti agama dan disamping adanya perbedaan juga dalam cara memahmi serta penerimaan setiap agama terhadap suatu usaha memahami agama. Setiap agama memiliki interpretasi diri yang berbeda dan keluasan interpretasi diri itu juga berbeda-beda.
W.H. Clark, seorang ahli Ilmu Jiwa Agama, sebagaimana dikutip Zakiah Daradjat mengatakan, bahwa tidak ada yang lebih sukar daripada mencari kata-kata yang dapat digunakan untuk membuat definisi agama karena pengalaman agama adalah subyektif, intern dan individual, dimana setiap orang akan merasakan pengalaman agama yang berbeda dari orang lain.

Definisi Agama secara etimologi
Pengertian agama dari segi bahasa dapat kita ikuti antara lain uraian yang diberikan Harun Nasution. Menurutnya, dalam masyarakat Indonesia selain dari kata agama, dikenal pula kata din (دﻴﻦ) dari bahasa Arab dan kata religi dalam bahasa Eropa. Menurutnya, agama berasal dari kata sanskrit. Menurut satu pendapat, demikian Harun Nasution mengatakan, kata itu tersusun dari dua kata, a = tidak dan gam = pergi, jadi agama artinya tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi secara turun-temurun. Hal demikian menunjukkan pada salah satu sifat agama, yaitu diwarisi secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi lainnya. Selanjutnya ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa agama berarti teks atau kitab suci, dan agama-agama memang mempunyai kitab-kitab suci.

Selanjutnya din dalam bahasa Semit berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan dan kebiasaan
Sementara itu Elizabeth K Nottingham yang pendapatnya tersebut tampak lebih menunjukkan pada realitas objektif, yaitu bahwa ia melihat pada dasaranya agama itu bertujuan mengangkat harkat dan martabat manusia dengan cara memberikan suasana batin yang nyaman dan menyejukkan, tapi juga agama terkadang disalah-gunakan oleh penganutnya untuk tujuan-tujuan yang merugikan orang lain.

Substansi agama bersifat transenden tetapi juga sekaligus imanen. Ia transenden, karena substansi agama sulit didefinisikan dan tidak terjangkau kecuali melalui predikat atau bentuk formalnya yang lahiriah. Namun begitu, agama juga imanen karena sesungguhnya hubungan antara predikat dan substansi tidak mungkin dipisahkan. Kalau saja substansi agama bisa dibuat hierarki, maka substansi agama yang paling primordial hanyalah satu. Ia bersifat parennial, tidak terbatas karena ia merupakan pancaran dari yang mutlak. Ketika substansi agama hadir dalam bentuk yang terbatas, maka sesungguhnya agama pada waktu yang sama bersifat universal sekaligus partikular.

Harun Nasution, mengatakan bahwa  agama dapat diberi definisi dengan disertai ciri-ciri  sebagai berikut :
  1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi;
  2. Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia;
  3. Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia;
  4. Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu;
  5. Suatu sistem tingkah laku (code of condut) yang berasal dari kekuatan gaib;
  6. Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan gaib;
  7. Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia;
  8. Ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang rasul (utusan Allah).
Lima aspek yang terkandung dalam agama
Pertama, aspek asal-usulnya, yaitu ada yang berasal dari Tuhan seperti agama samawi, dan ada yang berasal dari pemikiran manusia seperti agama ardli atau agama kebudayaan. 
Kedua, aspek tujuannya yaitu untuk memberikan tuntunan hidup agar bahagia di dunia dan akhirat. 
Ketiga, aspek ruang lingkupnya, yaitu keyakinan akan adanya kekuatan gaib, keyakinan manusia bahwa kesejahteraannya di dunia ini dan hidupnya di akhirat tergantung pada adanya hubungan baik dengan kekuatan gaib, respon yang bersifat emosional, dan adanya yang dianggap suci.
Keempat, aspek pemasyarakatannya, yaitu disampaikan secara turun temurun dan diwariskan dari generasi ke generasi lain. 
Kelima, aspek sumbernya, yaitu kitab suci.

Latar Belakang Perlunya Manusia Terhadap Agama
  1. Latar Belakang Fitrah Manusia
manusia secara fitri merupakan makhluk yang memiliki kemampuan untuk beragama. Hal demikian sejalan dengan petunjuk nabi dalam salah satu hadisnya yang mengatakan bahwa setiap anak yang dilahirkan memiliki fitrah (potensi beragama), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.
Alexis Carell mengatakan bahwa pada batin manusia ada seberkas sinar yang menunjukkan kepada manusia kesalahan-kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan yang kadang-kadang dilakukannya. Sinar inilah yang mencegah manusia dari terjerumus ke dalam perbuatan dosa dan penyimpangan.
  1. Kelemahan dan Kekurangan Manusia
  2. Tantangan Manusia

Berbagai Pendekatan Dalam Memahami Agama
Pendekatan teologis normatif, dalam memahami agama secara harfiah dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka Ilmu Ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan lainnya. 

Pendekatan antropologis, dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. 

Pendekatan sosiologi, dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Hal demikian dapat dimengerti, karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat dipahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dan ilmu sosiologi.

Pendekatan filsafat, dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha mengaitkan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman keagamaan manusia.

pendekatan sejarah, seseorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan historis. Dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut.

Pendekatan kebudayaan, mencoba memahami agama  sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat; dan berarti pula kegiatan (usaha) batin (akal dan sebagainya) untuk menciptakan sesuatu yang termasuk hasil kebudayaan.

Pendekatan Psikologi, berusaha untuk mengetahui tingkat keagamaan yang dihayati, dipahami dan diamalkan seseorang. 




Resume Mata Kuliah Pengantar Studi Islam semester 1 Jurusan KPI UIN Bandung
Share:

G+1

Howdy, I'm @ridhomfirdaus

Seorang blogger, designer serta founder incsomnia, sebuah jasa pembuatan design dan website. Berstatus sebagai mahasiswa Jurusan KPI UIN Bandung dan dewan redaksi majalah jurusan yaitu Dejavu Magazine. Terimakasih atas kunjungan sahabat di blog sederhana ini. Silahkan simpan link website/blog sahabat atau mengisi buku tamu di sini agar bisa saling bersilaturahim. Terimakasih.
tukar link Guestbook

0 komentar:

Posting Komentar

 
Back to Top